Tampilkan postingan dengan label Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyata. Tampilkan semua postingan

04/12/15

 
Ketika malam berjumpa
Perahu tersasar dalam bibir pantai
Berjuta pasang mata mengawasi
Takut matahari muncul membawa kabar duka

Malam ini begitu terasa panjang
Di tambah kehadiran Si Pandai pemberi cerita
Berjuta pasang mata menunjukkan binar
Akan harapan yang tak dapat ku mengerti

Aku tidak bisa tertidur
Suara bahagia di sana seperti memaksa untuk aku terjaga
Si Pandai terus membual dengan cerita yang tak berujung
Fiktif, namun menggungah rasa emosi di hati

Ku pandang mereka dari atas bukit
Sambil melempar beberapa batu ke kolam kecil
Bosan
Sampai akhirnya bosan membawa mataku terpejam

Matahari benar-benar membawa kabar duka
Aku siap berlari, masih dengan mata tertutup
Berniat untuk bersembunyi di rumah peri
Pasti aman, pasti nyaman

Ah! Ini jebakan!
Aku tak bisa menolak untuk berhadapan dengan matahari
Melihat takdirku di masa depan
Bagaimana bisa aku yakin bahwa Si Pandai dapat ku miliki?

"Siluetmu tak pernah muncul di pelupuk mata. Tapi kala kau memberi cerita, takdirmu muncul di dalam asa."

19/11/15

4 bulan blog ga diisi, sibuk sama urusan hati #aduh
canda, guys wkwk


untaian harapan yang berdentum sejak malam
sampai senja pun tak ada yang membalas
aku takut bulir kecewa semakin asam
karena ku tak sanggup beri rasa tak bias

"kalaulah kata hati tak sampai, cobalah pinta pada dua matanya. mungkin akan kau temukan setitik kekecewaan yang membuatmu harus berhenti menunggunya.."

27/05/15

Judul di atas itu bener-bener harus di pikir panjang. 3 cerita di bawah ini seharusnya mampu menjadi bahan renungan Lu yang baca ini. Gue ga maksa Lu harus sepakat sama apa yang Gue bilang. Tapi rasanya kalo ada perbedaan pendapat atau sudut pandang, mungkin kita bisa duduk di tempat dan waktu yang sama. Gue cukup terbuka sama hal-hal baru. Bahkan karena terlalu terbuka, Gue bisa berkawan dengan 3 jenis cowo macam ini di sudut daerah sana.Check this out!

22/12/14

Berbulan-bulan cuma bisa tersenyum melihat saudara/i di sini mengemban dakwahnya dengan penuh ghiroh. Sesekali berdo'a untuk diikatkan dengan hati-hati mereka agar terus memakai kata hati bernama bashiroh.
#afwanbangetlah

Inget banget, waktu itu saya adalah aktifis polos yang keras kepala. Keukeuh membela amanah di Bogor tanpa tau batasan-batasan bahwa ternyata saya boleh menerima amanah selain di sana. Saya menolak amanah saudara/i di sini tanpa pertimbangan yang pasti. Syukurnya, saat itu mereka tidak memaksa. Betapa lembutnya tutur kata mereka membuat saya tak bosan memandang mereka.
#afwanbangetlah

Tidak lama dari penolakan amanah itu, saya mulai kenal beberapa saudara/i setingkat fakultas. Lagi-lagi saya menjadi aktifis polos yang keras kepala. Dan saya menolak amanah untuk kedua kalinya. Menolak ajakan dakwah yang sedang dibangun oleh saudara/i di sini. Dengan berat hati, saya camkan bahwa saya harus menjaga jarak dengan mereka. Biar mereka dipertemukan insan yang lebih baik dari saya. Biarkan.
#afwanbangetlah

Dari pandangan yang sangat jauh, saya masih tetap tersenyum melihat mereka yang melingkar, melihat mereka yang syuro di sela-sela kuliah, melihat mereka membuat acara keislaman di fakultas maupun di universitas, mendengar celotehan mereka yang berencana membawa organisasinya ke arah mana, dan lain lain, Saya masuh update. Saya masih mendo'akan mereka dalam malam-malam saya, semoga kelak mereka harus membuat saya iri karena saya tidak menjadi bagian dari mereka. Saya masih mencuri waktu-waktu kuliah saya untuk sekedar memublikasikan acara-acara mereka. Saya masih berharap keadaan ini akan terus begini..
#afwanbangetlah

Sampai pada akhirnya saya berada di akhir tahun kedua saya kuliah di sini. Prioritas saya di Bogor akan menjadi satu hal yang saklek dan tidak bisa diganggu gugat. Saya pun sering kelimpungan sendiri karena mengurusi Kabupaten dan Kota dalam 2 hari setiap minggunya. Beruntungnya, ketua majelis syuro di Bogor juga pernah kuliah di tempat saya kuliah saat ini, beliau paham kondisi saudara/i di sini karena pernah memimpin selama 1 periode. Juga, ketua organisasi saya bukanlah orang yang membatasi keinginan anggota. Asalkan fokus, kita diperbolehkan untuk napak di dunia belah manapun. Sampai pada akhirnya, saya memutuskan untuk pendekatan dengan saudara/i di sini..
#afwanbangetlah

Awalnya, saya merasa banyak yang tidak beres di dalam sini. Ah, tapi saya tidak perlu mengetahui sejauh itu. Saya hanya ingin bantu yang sekiranya bisa di bantu, tanpa membuat saya terhimpit di jadwal Bogor saya. Beruntungnya, ketua organisasi ini paham, terutama ketua perempuannya. Belakangan, mendadak jadi konsultannya. Dari situlah saya mengenal saudara/i secara personal. Luar biasa. Mereka sangat luar biasa!
#afwanbangetlah

Waktu terasa begitu cepat, bahkan saya tidak menyadari apa-apa yang terjadi selama mengawali tahun ketiga saya kuliah. Mendadak saya mengikuti mereka di dalam berbagai kegiatan. Baik di sengaja maupun tidak. Kini, sudah seminggu lagi UAS di semester 5, saya masih heran dengan apa yang saya lakukan selama ini. Dengan mengangkat alis sebelah, saya patut tanyakan ini pada diri sendiri : Sejak kapan aktif di el de ka?


--- Berjanjilah bahwa kalian akan membuat saya iri karena saya tidak pernah menjadi bagian dari kalian di organisasi ini. Tapi izinkan saya menjadi saudari kalian, yang senantiasa membantu dalam do'a untuk keberkahan organisasi kalian..

28/10/14

Air

berguncang
dunia itu membangunkanku dari beku
sinarnya,
mampu membuatku seakan dirangkul

ini kah air yang membuat kopi tak lagi terlalu kental?

05/06/14

Pelindung itu,
Ya. Dia ramah pada bingkisan lama
Ketika sendiri,
Dia tak menyimpannya
Lamunan petang pun tak buatnya seperti batu
Ah.. Bingkisan lama itu aku

Cerita singkat ini tentang si adik yang sekarang badannya lebih besar dari badan saya, Olan. Yap, saya kadang bingung harus memanggilnya kakak atau adik, karena justru dia yang melindungi-merawat-mengurus saya. Tapi dibalik itu semua, masih tersimpan rasa manja yang tidak bisa ia tutupi di waktu-waktu tertentu.

06/05/14

Sedikit waktu yang mungkin aku miliki
Tak bisa menuangkan segala makna haru
Dengan senyum,
Yang tua meminta kasih pada yang muda
Kecup kening ini, kecup saja
Sampai restu itu mengalir dalam langkahku

Ada banyak hal yang berbeda dari Ummi. Entah berawal kapan. Saya melihatnya seperti air di dedaunan yang hendak terjun bebas. Semoga saya salah.

22/04/14

Semuanya mulai menjadi putih
Aku ragu dengan matanya saat menatapku
Garis pandangnya tak lagi lurus padaku
Tapi ada upayanya untuk tidak merintih

Belakangan, saya senang memandangi sosok Abi. Sosok sederhana yang pemikirannya selalu di luar dugaan anak-anaknya. Abi bukanlah orang yang terlahir dari keluarga yang berpendidikan tinggi, bahkan ia pun tidak menggunakan masa mudanya untuk bersenang-senang di gedung perguruan tinggi. Ia memilih banting kemudi menuju dunia kerja yang membuatnya lebih menghargai waktu.


14/04/14

Tik tok
Tik tok
Tik tok

Cobalah lawan kecepatan detik jam itu
Terbaring
Merajuk membuat semu rasa malu
Panas kering

Bukan,
Indahnya suara alarm tanda kebangkitan
Bukan,
Tiada maaf yang tersampaikan
Bukan..

Tak seindah ketika topeng itu terbakar
Tak seharum ketika bunga itu tak mekar
Tapi,
Aku menunggu sandiwaramu selesai

28/12/12


Panggilan itu mungkin sejak ada sekitar 4 tahun yang lalu
Bersama peri-peri cantik yang bersembunyi di ilalang belakang rumahku
Aku tidak terperanjat ketika air yang kau siram membasahi kepala ini
Aku merasa bersyukur kau sudah menyadarkanku akan tempat ku berpijak kini

Aku benci mengatakan ini bahwa aku takut berjodoh denganmu
Bagaimana mungkin aku merasa sangat benci ketika menyebut namamu
Aku pun sangat benci ketika melihat dirimu yang berani berhadapan denganku
Tapi aku sangat mencintai perkataanmu yang kau tuang dalam tulisan, untukku

Bukan, ucapanku ini bukan tentangmu
Hey, aku bilang, ini bukan tentangmu
Wahai seseorang.

Ya, ini memang salahku
Aku yang mengundang peri-peri cantik itu
Untuk keluar dari persembunyiannya
Aku ingin sekali lagi membuatmu marah
Karena saat itulah aku mulai mengenalmu

Ah, ya.
Kaulah yang ku cintai dalam balutan kebencian,
Duhai hujan..

"Dan kini ku mulai berani memberikan sikap atas tulisan yang kau ukir di dunia ini"

10/10/12

Potongan kisah ini pernah tertuang dalam selembar kertas putih
Pada dimensi ranting batang pohon yang sedikit berbeda dariku


Kubaca sekilas nadi yang mengalir dengan riang malam itu
Aku mengira hanya sebatas percikan yang membuatnya berhenti sejenak
Namun ternyata ada sebuah gumpalan kotoran yang penuh luka

Aku tidak bisa membaca isi hatinya yang mungkin mulai sekokoh pilar imannya
Aku juga tidak bisa membuatnya terus menatap langit yang tak bisa ia gapai

Melihat dirinya sekarang seperti bintang yang tetap bersinar namun semakin jauh
Jauh dariku, darimu, dari kalian, dan dari mereka
Tak mengapa bagiku jika itu membuatmu tak menjadi orang yang dangkal akan akal

Biar bayangmu di sana bersama angin yang menyejukkan
Biar bayangmu di sana bersama air yang menyegarkan
Asal sosokmu masih di sini bersama kami yang penuh dengan peluh keringat
Bersama kami yang juga mengajakmu bergerak

Satu hal yang pernah terucap dari mulutmu, kini diuji untuk dirimu


Berhentilah untuk berhenti!
Lembaran putihmu mulai menjadi dasar pola ingatan banyak muslim

12/06/12

Terbesit untuk memberinya seutas bibit pun aku enggan, kala itu
Memberi sinar bahkan melirik pun aku tak pernah, kala itu

Lalu aku tercengang sendirian
Melihat layar putih yang terus berputar di hadapan
Menceritakan aku di kala itu
Ya, dia yang tak pernah berjumpa denganku

Sekarang,
Dia memberiku seutas bibit, lengkap dengan pupuk dan airnya
Dia bukan hanya melirikku, tapi juga menyinariku
Lalu aku benar-benar marah padanya saat aku tumbuh
Tumbuh itu ternyata menyakitkan untukku
Dia menangis dan meminta maafku
Aku masih marah lalu membunuhnya pelan-pelan
Tapi sinar darinya tak pernah redup
Sampai kurasa aku tak pantas untuk membunuh



Aku sedikit mengenalnya
Dia yang sering menamparku
Tapi aku menyukainya

Hmm..
Aku baru merasakan satu hal yang aneh
Terkadang aku rindu sinarnya
Biarlah,
Aku memang membutuhkannya
Saat aku tumbuh dan berkembang

Temani aku tumbuh
Karena ternyata
Aku rela sakit disisimu

17/10/11


Dan aku membuka mata disaat matahari masih terlelap
Masih samar ketika ku mencoba meraih konsentrasi
Dahi ini berlipat dalam beberapa menit
Tubuh terasa kaku dan tak ada daya selain istighfar

Masih teringat beberapa jam yang lalu
Aku berada di sebuah desa samping kota dengan angin khasnya
Menjadi pemegang waktu untuk aktivitas 50 anak

Sambil meraih air di samping ranjang
Aku tetap memanggil nama Tuhanku
Allah.. Allah..

Satu sentimeter lagi menuju sentuhan gelas cantik
Aku terkejut dengan kehadiran wanita paruh baya
Berbusana putih-putih seraya tersenyum padaku
Hangat, hangat sekali

Dengan cekatan, wanita itu datang dan duduk di dekatku
Aku memanggilnya : UMI
Diajaknya aku berdo'a pada Sang Pemberi Kekuatan

Lalu aku kembali ke ranjang dan meneruskan waktu istirahatku
Ditemani umi dengan suara tilawahnya, tak jauh dari ranjangku
Aku benar-benar melihanya
Melihat rasa sayangnya padaku. Padaku. PADAKU
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Dan aku sudah tak berdaya untuk tak memejamkan mataku
Mata yang sedari 3 hari ini ingin sekali berteriak kesakitan
Mata yang terus diajak berlari mengejar sebuah kenangan
Dan mata yang selalu dikecupnya setiap malamnya

Aku bermimpi di hangatkan lampu dan selimut sangat tebal
Mencoba menyingkirkan apapun yang menghalangi waktu tidurku
Sampai pada saat matahari menyorotku seakan membangunkanku dengan cepat
Karena adzan shubuh sudah lewat sekitar satu setengah jam yang lalu

Mulai membuka mata untuk kedua kalinya
Dan lagi, umi duduk di samping ranjangku
Aku melihat jam di dinding, pukul 5.55
Aku mengerti, aku tidak diizinkan pergi sekolah olehnya

Aku shubuh dengan langkah yang sangat lemah
Usainya, umi menyiapkan makanan di depan tv
Dan aku merasa ada kekuatan cinta darinya
Aku benar-benar memeluknya hari itu

"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.. Terimakasih untuk setiap hari, umi :D"

08/10/11


Kamu sudah terlalu lemah untuk menjadi anaknya
Aku tidak begitu yakin, kamu anaknya atau bukan

Kamu tidak memiliki nilai apapun di hadapannya
Sedangkan dia?
Ohh, dia sangat merasa sombong berhadapan denganmu
Kamu mau memukulnya pun tetap saja kau hanya menangis
Kamu hanya menangis, kamu ingat itu kan?

Disini aku hanya bicara tentang perasaanmu saja

Aku pernah melihat,
Ketika dia mengecup keningmu
Dan aku pun pernah mendengar,
Dia bilang, "aku sayang padamu"

Belum luput dari keharuan itu,
Dan aku masih saja menatap kalian
Kamu bilang dia tidak tau diri
Mengapa? Mengapa? Ada apa denganmu?

Kamu berteriak padaku
Berteriak di samping telingaku
"aku benci dia"

Aku tetap bertanya padamu sampai kamu menamparku sekali
Kamu menangis. Bersujud di tengah lapang. Kamu menangis
Aku tidak mengerti apa perasaannya sekarang
Dalam tangisnya, aku merasa betapa perihnya hatimu
Benar begitu?

"Siapapun kamu. Ibu tetaplah ibu. Surga tetap ada di telapak kakinya"

16/07/11



Kata orang,
Waktu adalah pembunuh ulung yang setia menemaniku
Terkadang aku takut jika pembunuh itu lelah membunuh
Di ujung kelelahan itu,
Akankah masih ada harapan?

Mungkin di waktu yang lalu
Aku pernah menantang hidup dengan separuh waktu
Mengejar sesuatu yang antara ada dan tiada
Tapi bukankah masih ada sekarang dan nanti?

Dalam waktu dekat kala aku mengejar mimpi
Ada satu tangga kehidupan yang belum sempat aku pijak
Aku sempat sakit memikirkan anak tangga itu
Sampai pada saat itu,
Waktu berhasil membunuhku

"Sang pembunuh itu biasanya senantiasa di sampingku. Membunuh semua egoku untuk berhenti sejenak di tengah jalan hidupku. Kali ini pembunuh itu benar-benar membunuhku"

24/06/11



Semuanya lenyap seketika
Tidak ada lingkaran proses
Tidak ada segitiga waktu

Dimana kalian?
Mengumpat di balik tangisan kami?
Menertawakan di balik kegelisahan kami?
Atau menangis juga bersama kami?

Kami yang tertatih membuat semuanya bangkit
Pertama kalinya menangisi sesuatu
Apa yang kalian tau tentang kami?
Hanya orang-orang yang sering mengecewakan

Muak
Letih
Kecewa
Sakit

Pemikiran labil yang sering di caci kalian
Cukup kami berdiri dengan kerapuhan sesaat
Kami mengerti artinya motivasi
Kami tak ada upaya karena hitam di atas putih
Kalian tau apa tentang kami?
Hanya orang-orang yang banyak meminta

Kami menunggu uluran tangan-tangan itu
Sekalipun tangan-tangan kalian
Kami tidak gila harga diri
Kami hanya gila persaudaraan

Ya sudah
Lihat episode selanjutnya
Bertahan hidup atau akan mati?

"Kerapuhan itu sudah tertolong karena kepergian kalian. Terimakasih"

01/05/11



Teriakan dari bayangan besar itu membunuh pandanganku
Pilu hati yang kini bergetar ketakutan antara mereka
Membisu dalam ruangan kosong menunggu tertidur
Hasrat terpejam kalah akan kebebasanku

Akulah pendengar yang selalu berjanji untuk setia
Yang terbaik sepanjang hidup mereka
Namun lihatlah aku yang sungkan hidup dan mati
Berada dalam kesengsaraan di atas kemarahan mereka

Ya Allah
Bolehkah ku buat telingaku tuli akan teriakan pembunuh
Bolehkah ku pejamkan mataku sekali saja dan untuk selamanya
Bolehkah ku buat mereka terdiam atas kekuatanku

Izinkan aku membelah teriakan-teriakan itu sebagai suatu sinar
Sinar kedamaian penuh kehangatan di hati dan jiwaku
Izinkan aku merubah nerakaku menjadi surgaku

Sungguh, ini yang dirasakan olehku
Ketika senyum tidak pernah terciptakan

13/04/11



I live because of You
I run to see You
I love You

When You call my name
I came to You
You've given me so many love letters
The most beautiful love letters in my life

I always pray every night
About a love letter from the Supreme Love
Under overcast condition because little light
Full of fear and hope will be your love

Calling for You is a command from lover
Love letter from You is to guide my life
It's about Allah and The Al-Qur'an

Finding the meaning of love
Until I see a promise
I'm happy to be a significantly fall in love
Because I believe Your promises

God will not betray me
Because I belong to Him

Look who's shining
God has kissed
Love has arrived at the earth
God is in love

I hope, we became lovers forever

27/02/11



Hikmah dari sebuah jalan kehidupan seseorang
Terkadang terdengar sebuah kisah usang
Disini
Dia membuktikan bahwa hikmahnya
Dapat di ambil sekarang dan untuk ke depan

Laju suaranya yang seakan berteriak
Memiliki tujuan yang sempurna
Memiliki suatu komitmen penuh pesona
Memiliki karisma yang tak bisa di miliki orang lain

Dia mengenal bidadari-bidadari dari surga
Entah takdir bernama apa ia bisa menjadi bagian dari sana
Taukah ia?
Bahwa bidadari itu miliknya yang pernah ia impikan

Virus mulai menyandarkan racun ganasnya
Galau, lemah, gelisah
Menangislah ia di tumpukkan kertas kehidupan
Tujuannya menjadi seorang pemimpin
Seketika terbakar menjadi abu yang tak berpesan
Tapi tentu berhikmah

Sadarkah hikmah itu tak selalu tersurat?
Sadarkah abu yang tak berpesan adalah sebuah jalan?
Sadarkah virus itu bernama pilihan?

Bidadari-bidadari surga itu hanyalah cermin
Cermin biasa yang hanya bisa memantulkan wujud siapa dirinya
Tapi pantulannya itulah yang luar biasa
Terciptalah sebuah perubahan atas segala izin Allah
Dan jangan pernah beranjak dari sisi-Nya
Jika perubahannya membuat Allah jatuh cinta padamu

16/12/10



Ketika kita berlari mengejar waktu
Waktu membantu kita menelusuri kehidupan
Namun apa yang di lakukan kehidupan?
Dia membuat kita seperti tumpukan boneka

Lezatnya kehidupan ini di saat terasa manisnya
Namun jika sedetik yang lalu saja manis itu tidak diciptakan
Apa lezatnya kehidupan?

Kejujuran di setiap raut wajah yang semu
Adalah sebuah sinetron panjang di atas panggung jiwa
Tersenyum dalam do'a menghiasi tumpukkan dosa
Adalah sebuah pengkhianatan antar jiwa sang insan

Opera kehidupan
Sebuah permainan kecil
Di bawah tangan Tuhan

Sungguh ketika Tuhan inginkan kita hitam
Maka hitamlah tanpa penolakan
Kita yang merasakan hanya bisa bercermin pada air
Entah genangan air atau air yang mengalir

Ketika roh berkumpul
Akankah saling mengenal?
Ketika jiwa berkumpul?
Akankah saling mengenal?
Manusia tidak tahu

Kitalah manusia yang memiliki jiwa sandiwara

Rasa itu akan terus berguling menempati hati-hati yang kosong
Rasa yang menjadikan roh dan jiwa berada dalam jiwa yang berbeda
Ketika belum terungkap kita merasa menjadi tokoh utama
Ketika telah terungkap kita merasa menjadi tokoh sampah

Kita
Adalah tokoh penting
Dalam sebuah
Opera kehidupan
Milik Tuhan..

Teman Lila