Tampilkan postingan dengan label Halusinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halusinasi. Tampilkan semua postingan

04/12/15

Jangan terlalu erat menggenggam tanganku
Jangan terlalu dalam menatap mataku

Aku masih mampu mengingat
Kala membantumu menyimpulkan dasi
Tapi aku lupa
Kapan aku dapat melepaskan dasi dari kemejamu

Ah, 6 tahun bukan waktu yang singkat, kan?

Bahkan jemarimu menjawab dengan sapa pagi
Bibirmu membalas dengan senyum hangat



Lelakiku,
Kalaulah ada lelaki lain yang ku genggam
Ia adalah kamu dengan wujud tuamu
Kalaulah ada lelaki lain yang ku tatap
Ia adalah putra kita yang Tuhan titip

"Ini hanya do'a, harapan, dan rencana yang sempat kita diskusikan dalam bisu. Hanya itu. Jangan pernah percaya padaku lagi, karena sejak ku minta kau mundur, aku benar-benar meminta itu."

27/06/15

Banyak pertanyaan yang sejenis muncul di otak gue, contohnya :

Kenapa semuanya serba butuh alasan?

Nah, kan. sekarang gue mulai ketularan bertanya dengan awalan "kenapa"

26/05/15

Sudah pernah kutinggalkan satu buah apel di mejamu
Dan kamu bawa pulang tanpa bertanya dari siapa apel itu

Lalu aku lupa
Tentang apel itu
Dan juga tentangmu

 
Hari semakin senja dengan angin panas yang menari
Dan kamu mulai menyapa dedaunan sebagai saksi bisu

Di pagi yang cerah,
Kamu menggenggam sebuah apel
Dan memberikannya padaku dengan senyum ramah
Tetap tersenyum sambil memastikan aku menerima apelmu

Hambar,
Ingat, kan?
'Lalu aku lupa
Tentang apel itu
Dan juga tentangmu'



"Katamu, aku bagai permata yang hanya bisa dimiliki oleh konglomerat.. Memangnya kamu bukan konglomerat?"

16/06/14


Kerutan di wajah kehidupan
Menunjukkan ku hidup di masa tuamu
Ah, yang menari saja tak lain adalah seorang pensiunan
Lalu apakah aku harus menaruh buah segar dalam karung berdebu?

Celah itu kotor dengan butiran-butiran emas yang mengebul
Cobalah kau tiup barang sekali atau dua kali

Ayo, bangun!
Hari tak lagi seperti di mimpi
Lihat jamnya! Lihat!
Jarumnya tak lagi bergerak, kawan..

Biar ku coba tebak,
Kau melamun?

"Mata kosong itu tak membuat kau terlihat cakap. Cobalah gunakan waktu itu menjadi jalan sejarah yang bermakna. Sudah berapa lembar usiamu yang digunakan untuk meratapi musibah yang bukan hanya kau yang merasakan? Sudah berapa lembar usiamu yang digunakan untuk mengkhawatirkan ketakutan yang tak beralasan? Bangun, kawan!"

 - Ciputat, Juni 2014

02/04/14

"ketika tak ada bahu untuk bersandar maka masih ada lantai untuk bersujud pada Rabb-Mu.."

Mungkin ini yang membuat saya enggan meminta bahu dari siapapun. Saya utamakan pada lantai untuk bersujud. Sekalipun kondisinya lebih dekat dengan sang bahu tadi.

Bulan ini awal Bulan April yang menegangkan. Kenapa? Banyak yang menuntut saya untuk lebih sering diam dan mendengarkan sekitar. Berulang kali bermimpi kelak apa yang akan terjadi jika benar-benar tak ada saya di sini. Tak ada di dunia ini, maksudnya.

10/03/14

Cangkir kosong menari di pagi hari
Menunggu kucuran dari Sang Tuan
Sesekali menatap teko yang bernyanyi
Menghampiri walau sebenarnya enggan

Ku intip mereka yang masih tak bertatapan
Ada sebukit harapan yang mestinya tersampaikan
Cangkir kosong masih dalam putaran
Dan teko masih mabuk dalam nyanyian

Ku pinta sang Tuan segera hentikan permainan bodoh
Detik yang semakin terasa di perujung kebaikan

21/08/13


Dia yang mendengarkanku membaca ayat suci Al-Qur'an
Di tengah kesibukan lain yang mencuri perhatian
Dia yang memberikanku senyuman tulus saat aku mengakhirinya
Lalu menyatukan satu lututnya pada satu lututku
Saat itu matanya beradu dan tertutup, hitam

Obrolan dewa yang seringkali tersibak pada satu makna
Tersirat, hanya dia dan Tuhan-nya yang mengetahui
Beberapa kali rasa nyaman ini melebihi rehatnya bulan

Aku tidak berani mencoba melangkah lebih banyak dari ini
Terlalu lama untuk ku pahami siapa dan bagaimana dirinya
Cukup semudah ini usaha mempertahankan waktu dalam genggaman
Aku semakin sulit beranjak ketika tangannya mendekat

Rasa sabar itu yang membuahkan rasa penasaranku padanya
Canda itu yang menjadikan jalanku untuk menebak jawabannya
Hasilnya? Aku harus membersihkan isi pikiranku darinya
Aku tau ia mendekat untuk berpamitan..

Datang dalam relung yang berisi, lalu menggeser batu kramat
Mengguyur tawa pada balutan hati, di samping menunggu hari
Bersiap pergi lagi tanpa menggeser kembali batu kramat tadi
Namun menyisakan sedikit harapan komunikasi yang mungkin terlupa
Bisa saja, kan?

Aku tidak akan menghalangi segala harapan, cita-cita dan hasil do'a-nya..
Aku hanya meminta caranya berpamitan denganku dengan sangat bijak,
Ayo. Sebelum semuanya dirasa terlambat sehingga ada waktu untuk saling mendo'akan

Pergilah, aku takkan menghitung hari
Janji.

23/05/13

Arus candaan yang tak dapat ku pahami
Sekejap membuatku tenggelam dalam ketidakpastian
Aku tak suka,
Tapi, mungkin kamu suka..

Jari ini sudah tak tertaut pada namamu
Asaku jahat sehingga lemah dalam mengobati
Jatuh hari ini akan menyeret duka pada tahun ini
Ini tak adil bagiku..

2 titik di sana sama besar,
Juga sama kotornya karena kenistaan yang sama
Tak ada langkah yang dipertanyakan pada cinta
Bukti mana yang bisa menghapusnya?

Indah.. Semua terasa indah..
-di pelupuk mata-
Sesak.. Semua terasa sesak..
-di pelupuk mata-

"Tolong kirimkan cinta terbijak yang dimiliki malaikat untukku.. Biarkan ini halusinasi yang terindah yang ku miliki.."

20/03/13



Lagi,
Berteduh sejenak karena derasnya rindu..

Aku mencoba meyakinkan alur opera ini di pelosok mata
Benar-benar percaya diri
Kini mereka membangun lampu-lampu di jalan
Mencoba memberikan secercah cahaya di setiap tikungan yang berlubang
Benar-benar percaya diri

Aku merasa terhentak ketika mereka mulai bicara tanpa napas
Ini jebakan si keledai yang bodoh atau si kancil yang cerdik?
Ah, ya. Mungkin aku terlalu picik

Mereka memang tidak berada tepat di bawah lampu-lampu jalan itu
Tapi sorotan mata dan jilatan api kehangatannya
Tepat berada tempat ku berada

Lautan itu sangat luas, kan?
Dan akan terus meluas, kan?

13/03/13

Ku pikir, tanah lapang yang tak pernah di tengok itu
Adalah hamparan kesejukan fatamorgana kebahagiaan
Sesekali pernah mencoba berniat -hanya berniat-
Untuk menyentuh tepi fatamorgana itu dengan kedua tangan
Do'a dari malaikat mungilku itu ternyata sangat menyejukkan
Aku terhempas -masuk- ke dalamnya tanpa kontrak hidup di sana
Syukurnya, aku terlahir dalam keadaan buta, bisu, dan tuli
Dan betapa indahnya kala semuanya tak bisa dilihat
Tak bisa di ungkapkan
Tak bisa di dengar

Tunas-tunas harapan di sana sebanding dengan buntalan kekecewaan
Itulah pilihan hidup yang berlaku tanpa ada institusi peradilan
Aku sebagai rakyat baru yang setibanya sangat berharap dan diharapkan
Merasa -nantinya- akan cepat dikecewakan dan mengecewakan
Tapi itu pucuk dari segala kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidup
Aku tidak merasa keberatan, bahkan merasa ini sesuatu yang salah

"Permainan kecil ini sudah saatnya -harus- dihentikan. Panggilan di sana begitu keras dan menakutkan!"

12/02/13



Gemericik kebencianmu mungkin masih sangat deras
Bahkan begitu terasa kala tiba-tiba kau membanjur meledak karena amarah
Tepatnya, amarah dalam diam yang membuatku terpaksa menelan ludah
Tidak terasa apapun, apalagi pahit, sakit, atau segala jajarannya
Kecuali perasaan yang ingin membuatmu tersungkur
Karena apa? Karena aku sudah ingin berhenti merusak tebing itu
Aku tak sekuat tempatmu berpijak
Kini sikapmu semakin membuatku sulit untuk berdiri tegak, menyanggupimu
Aku tak bisa membedakan apa arti sebuah keramahan
Mungkin aku yang tenggelam dalam samudera kecemburuan
Tapi matamu banyak sekali keinginan
Dan sejujurnya, aku tidak pernah mengenali matamu
Seminggu ini kau benar-benar melakukan apa yang aku duga
Dan ku anggap itu adalah sebuah penghormatan untukku
Walau aku tau mengapa kau begitu
Juga tentang sebuah penghormatan yang temanmu bisikkan padaku
Sudah tergambar jelas di langit petang dan senja
Daun yang berjatuhan pun mengerti getirnya hari ini
Ku harap, malam segera berganti dengan pagi
Karena mungkin aku sudah siap mendaki tebing yang lain



"kamu : memahaminya tak semudah mengucapkannya. Dan maaf jika selama ini aku memberatkan nafasmu.."

23/10/12

Dan ulahmu itu adalah hal kecil yang mmembuatku benar-benar takut
Takut untuk kehilanganmu dan takut untuk tak bisa lepas darimu
Dan keraguan atas rasa maafmu padaku adalah gombalanmu yang terpendam
Aku menanti manjamu saat mungkin kau lelah berlarian di relung hatiku

Hapus sudah air mata yang melahirkan muara di ujung sana
Aku bangga memiliki engkau beserta kesalahan-kesalahanmu
Aku bahagia bersama engkau beserta kesalahan-kesalahanmu


"Kesalahanmu setiap hari adalah makanan lezatku sebagai pupuk yang akan menumbuhkan cinta di surga kecil kita. Aku mencintaimu beserta jajaran kesalahanmu."

20/06/12

Letakkan atribut rencanamu ketika kau masih egois terhadap keputusan
Atur hatimu dan teruslah berkata bahwa saat ini kau tidak sendirian
Tulisan pada dinding ratapan itu kelak membuatmu semakin kerdil tak berharga
Catat segala kesalahanmu, dan buat matamu menatap kertas tak bernama

Penyakitmu itu tidak masuk dalam kategori penyakit seorang muslim
Bahkan kau pun yakin, kau tidak berada dalam lingkaran yang berhimpun

Semakin hari, peluang waktumu untuk melihat matahari semakin sempit
Kau sadar sedang berada dalam putaran waktu yang sedang berlomba lari
Dimana rasa syukurmu ketika waktu tak sedang dalam keadaan terhimpit?
Bukankah saat itu juga kau memiliki segudang jadwal untuk dilalui?



Tempat kau berpijak saat ini hanyalah sebuah rumah usang
Dan perlu diingat, di sini kau hanya menumpang
Jika kau berpikir sampai dasar laut, kau tak setegar karang
Atas dasar apa kau nyaman tertidur dalam zona tanpa ruang?

Ini semua tentang hidupmu yang penuh kebingungan
Orang di sekelilingmu masih setia dalam genggaman
Sekarang sudah waktunya kau yang mengambil peran
Cobalah untuk taklukkan dunia yang bertabur pilihan

08/06/12

Aku menghirup aroma kehangatan saat mata itu melirik bebatuan
Melihat sepatu usangnya di sisi pun aku merasa nyaman
Bahkan aku tak bisa buang muka saat wajahnya di hadapanku
Terkadang ia membuatku beku di bawah teriknya matahari
Juga membuatku gerah di atas tumpukan bongkahan es

Anehnya, tangan besarnya itu tak pernah bisa menggapai tanganku
Bahkan ketika mata ini hampir beradu pun sepertinya angin tak rela
Mungkin badai semalam adalah peringatan untuk mimpi sia-siaku
Aku bersyukur ketika hujan melarangku untuk beranjak ke sisinya

Langkahnya sudah tak tepat sasaran
Bentuk kesetiaannya padaku seakan termakan oleh air keruh di kawah
Aku berharap ia tak pernah pulang sejak ia pergi tanpa pamit

Aku tidak kecewa ketika bayangannya sudah tak bisa ku injak
Aku bahkan sangat gembira ketika melihat ia sibuk dengan yang lain

Berjanjilah untuk membuatku selalu tersenyum, walau itu sakit :)

02/06/12

Berhentilah menatapku seperti anak yang butuh permen
Aku tak juga semangat ketika kau memberikan bahu
Sekali saja telapak tanganmu menyentuhku
Mungkin senyum di wajahku tak pernah lepas lagi untukmu

Suaramu tak akan pernah terhapus malam
Dan kenangan bersamamu tak akan hilang oleh angin

Tak perlu diragukan lagi usahamu untuk mencintaiku
Aku memang tak pernah ingin menatap cintamu
Karena cintamu pantas untuk di balas

29/02/12


Petir kemarin membelah segala keterpurukan di matanya
Mereka yang menyukai ini hanya terdiam sambil berpaling
Aku benci keterlambatan
Lantunan peraduan air dan batu mempercepat tempo
Mereka berlari seperti dikejar bayangan ular
Matanya kini bening oleh sesuatu yang disebut iman

Mereka bertumpu pada sebuah rumah pohon
Namun aku berkata, ini bukan rumah kami
Mungkin bayangan ular itu sudah tidak mengejar mereka
Tapi kini mengejar si mata bening
Dan aku tertawa puas

Pilar-pilar desa tempat mereka mencari kebahagiaan
Sudah ambruk termakan amuk alam
Ya, mungkin alam tak suka kebahagiaan mereka

Si mata bening memohon padaku
Oh, aku begitu tersanjung
Mereka mati di tanganku

Sebentar,
Ada potongan kisah yang tertinggal

Aku sempat sendiri di atas langit
Menyaksikan mereka dan si mata bening
Seolah membuat irama kehidupan sendiri
Ironisnya, aku tak tertarik untuk merubahnya

10/10/11


Jarum jam seolah menyeret mencari titik pemberhentian
Terus berputar pada polanya seperti kehilangan tujuan
Semua berharap ia tak pernah mendapatkan tujuan
Karena apa?
Karena ketika ia berhenti, maka semua pun berhenti
Termasuk aku

Malam ini terasa sakit untuk rumput yang bergoyang
Menahan nafas hanya untuk menghemat tenaga
Angin yang berhembus mengajak main diabaikan olehnya
Ia tak berharap banyak, kecuali
Kelak telapak kaki seseorang membuatnya benar-benar mati
Termasuk aku

Kau bilang, semua ini rasanya hambar

Aku yang benar-benar berada di mulut jurang
Mengapa kau yang merasakan getarannya?
Aku benar-benar tak bisa mengingat
Kau adalah jarum jam atau rumput yang bergoyang?

Bermain dengan matanya jika kau ingin dirinya
Sentuh hatinya jika kau ingin dirinya
Buat ia tersipu jika kau ingin dirinya
Tapi,
Berikan rasa jika kau ingin menyelamatkannya

"Cerita itu telah dihapus hujan ketika kau pergi.
Maaf tidak sempat menempatkan di lahan istimewa"

08/10/11


Jemari yang berbicara itu semakin lincah
Mereka bilang, jari itu berkoar
Ah, terlalu klasik jemari di atas tulisan

Pandangan yang begitu pekat
Entah dari mata hitam atau cokelat
Siapa yang peduli?

Kerinduanku pada sosok bayanganku
Aku bilang, sisi yang lain
Semakin terasa ketika mereka kembali

Ini hanya perasaanku saja

Mereka seperti artis yang siap menjadi boneka
Dan aku?
Akulah yang menulis skenarionya

Ini hanya perasaanku saja

Pertengkaran kecil yang membuatku muak
Siapa yang peduli?
Semua ini berawal dari waktu yang begitu cepat
Waktu yang memberikan kami sikap
Sikap akan awal dari pertemanan

Adikku, mungkin ini hanya perasaanku saja

"Kalau sudah ada persaudaraan, apa artinya pertengkaran?"

04/09/11


Lagi. Aku bertemu dengan wanita itu
Di rumah singgah yang sempat aku palingkan

Ia menolak, selalu menolak
Bu, ada jalan lurus di sana, kita kesana yuk!
Ia tersenyum, selalu tersenyum
Bu, aku sayang banget sama ibu
Ia akan tertawa ketika aku pergi meninggalkannya

Aku pulang dengan membungkus kekecewaan
Tapi esok,
Aku pasti kembali ke rumah singgah itu
Hanya untuk mendengar tawa terakhirnya

"Potonglah jalan menuju persinggahan terakhirmu, jika kau merasa akan hidup selamanya"

27/08/11



Langkahnya terhenti ketika badai itu tak lagi menamparnya
Ayunan kelopak matanya memberi kesan baik pada Sang Pencipta
Nafas yang semula teratur kini menjadi sangat sangat sulit

Cahaya kuning di langit dari lingkaran yang tak sempurna
Ia berharap cahaya itu memberikan musim terbaik untuk esok

Panggung yang berpesan
Debu tebalnya seakan melambai
Ia tak lagi suci seperti dahulu kala

Ia menggiring malam pada cahaya yang bersahaja
Menatap sebuah bantal malam, bekal untuk malam selanjutnya
Malam esok tak akan sesederhana malam ini

Ia lupa bahwa hari ini adalah hari yang pendek untuknya

Mimpi ini tak akan pernah salah untuk diwujudkan olehnya
Seperti punggung para lelaki di bawah lampu pijar
Sesempurna kedamaian dalam kehancuran yang berkesempatan

"KISS (Keep It Short and Simple), guys!"

Teman Lila