20/03/13

Aku berusaha untuk menyampingkan dirimu, hari ini
Tertidur, walau biasanya bercengkrama
Terdiam, walau biasanya tertawa

Malam ini semangatku memuncak -bohong-
Mimpi ini membuatku tak ingin terpejam -bohong-

Sesekali rancangan masa depan ada di pelupuk mata
Membayangkan yang semestinya belum terbayang
Aku bertekad bulat malam ini
Kini 9 daftar impian harian sudah ku coret -bohong-
Tersisa 1,
Wajar tak terpenuhi semua, aku tak risau

Pilihan jalan yang melingkar bak roda
Mulai perlahan meranjak ke atas
Semakin kuat
Seperti aku
Hari ini, 20 Maret 2013


"Sebenernya, malam ini kamu tidak melakukan hal apapun, tapi malam itu kamu ada.."

13/03/13

Ku pikir, tanah lapang yang tak pernah di tengok itu
Adalah hamparan kesejukan fatamorgana kebahagiaan
Sesekali pernah mencoba berniat -hanya berniat-
Untuk menyentuh tepi fatamorgana itu dengan kedua tangan
Do'a dari malaikat mungilku itu ternyata sangat menyejukkan
Aku terhempas -masuk- ke dalamnya tanpa kontrak hidup di sana
Syukurnya, aku terlahir dalam keadaan buta, bisu, dan tuli
Dan betapa indahnya kala semuanya tak bisa dilihat
Tak bisa di ungkapkan
Tak bisa di dengar

Tunas-tunas harapan di sana sebanding dengan buntalan kekecewaan
Itulah pilihan hidup yang berlaku tanpa ada institusi peradilan
Aku sebagai rakyat baru yang setibanya sangat berharap dan diharapkan
Merasa -nantinya- akan cepat dikecewakan dan mengecewakan
Tapi itu pucuk dari segala kebahagiaan dan kesejahteraan dalam hidup
Aku tidak merasa keberatan, bahkan merasa ini sesuatu yang salah

"Permainan kecil ini sudah saatnya -harus- dihentikan. Panggilan di sana begitu keras dan menakutkan!"

12/02/13



Gemericik kebencianmu mungkin masih sangat deras
Bahkan begitu terasa kala tiba-tiba kau membanjur meledak karena amarah
Tepatnya, amarah dalam diam yang membuatku terpaksa menelan ludah
Tidak terasa apapun, apalagi pahit, sakit, atau segala jajarannya
Kecuali perasaan yang ingin membuatmu tersungkur
Karena apa? Karena aku sudah ingin berhenti merusak tebing itu
Aku tak sekuat tempatmu berpijak
Kini sikapmu semakin membuatku sulit untuk berdiri tegak, menyanggupimu
Aku tak bisa membedakan apa arti sebuah keramahan
Mungkin aku yang tenggelam dalam samudera kecemburuan
Tapi matamu banyak sekali keinginan
Dan sejujurnya, aku tidak pernah mengenali matamu
Seminggu ini kau benar-benar melakukan apa yang aku duga
Dan ku anggap itu adalah sebuah penghormatan untukku
Walau aku tau mengapa kau begitu
Juga tentang sebuah penghormatan yang temanmu bisikkan padaku
Sudah tergambar jelas di langit petang dan senja
Daun yang berjatuhan pun mengerti getirnya hari ini
Ku harap, malam segera berganti dengan pagi
Karena mungkin aku sudah siap mendaki tebing yang lain



"kamu : memahaminya tak semudah mengucapkannya. Dan maaf jika selama ini aku memberatkan nafasmu.."

15/01/13

Jika sampai cahaya itu mungkin tak kunjung padamu, sampai detik ini
Ia rela menjadi saksi atas cahaya-cahaya itu selama di dunia
Aku melihat mata tulusnya saat menatap sedih padaku atas bayangmu
Berikan kabar bahwa kau telah menjadi burung-burung surga di sana

28/12/12


Panggilan itu mungkin sejak ada sekitar 4 tahun yang lalu
Bersama peri-peri cantik yang bersembunyi di ilalang belakang rumahku
Aku tidak terperanjat ketika air yang kau siram membasahi kepala ini
Aku merasa bersyukur kau sudah menyadarkanku akan tempat ku berpijak kini

Aku benci mengatakan ini bahwa aku takut berjodoh denganmu
Bagaimana mungkin aku merasa sangat benci ketika menyebut namamu
Aku pun sangat benci ketika melihat dirimu yang berani berhadapan denganku
Tapi aku sangat mencintai perkataanmu yang kau tuang dalam tulisan, untukku

Bukan, ucapanku ini bukan tentangmu
Hey, aku bilang, ini bukan tentangmu
Wahai seseorang.

Ya, ini memang salahku
Aku yang mengundang peri-peri cantik itu
Untuk keluar dari persembunyiannya
Aku ingin sekali lagi membuatmu marah
Karena saat itulah aku mulai mengenalmu

Ah, ya.
Kaulah yang ku cintai dalam balutan kebencian,
Duhai hujan..

"Dan kini ku mulai berani memberikan sikap atas tulisan yang kau ukir di dunia ini"

Teman Lila