04/09/11


Lagi. Aku bertemu dengan wanita itu
Di rumah singgah yang sempat aku palingkan

Ia menolak, selalu menolak
Bu, ada jalan lurus di sana, kita kesana yuk!
Ia tersenyum, selalu tersenyum
Bu, aku sayang banget sama ibu
Ia akan tertawa ketika aku pergi meninggalkannya

Aku pulang dengan membungkus kekecewaan
Tapi esok,
Aku pasti kembali ke rumah singgah itu
Hanya untuk mendengar tawa terakhirnya

"Potonglah jalan menuju persinggahan terakhirmu, jika kau merasa akan hidup selamanya"

27/08/11



Langkahnya terhenti ketika badai itu tak lagi menamparnya
Ayunan kelopak matanya memberi kesan baik pada Sang Pencipta
Nafas yang semula teratur kini menjadi sangat sangat sulit

Cahaya kuning di langit dari lingkaran yang tak sempurna
Ia berharap cahaya itu memberikan musim terbaik untuk esok

Panggung yang berpesan
Debu tebalnya seakan melambai
Ia tak lagi suci seperti dahulu kala

Ia menggiring malam pada cahaya yang bersahaja
Menatap sebuah bantal malam, bekal untuk malam selanjutnya
Malam esok tak akan sesederhana malam ini

Ia lupa bahwa hari ini adalah hari yang pendek untuknya

Mimpi ini tak akan pernah salah untuk diwujudkan olehnya
Seperti punggung para lelaki di bawah lampu pijar
Sesempurna kedamaian dalam kehancuran yang berkesempatan

"KISS (Keep It Short and Simple), guys!"

16/07/11



Kata orang,
Waktu adalah pembunuh ulung yang setia menemaniku
Terkadang aku takut jika pembunuh itu lelah membunuh
Di ujung kelelahan itu,
Akankah masih ada harapan?

Mungkin di waktu yang lalu
Aku pernah menantang hidup dengan separuh waktu
Mengejar sesuatu yang antara ada dan tiada
Tapi bukankah masih ada sekarang dan nanti?

Dalam waktu dekat kala aku mengejar mimpi
Ada satu tangga kehidupan yang belum sempat aku pijak
Aku sempat sakit memikirkan anak tangga itu
Sampai pada saat itu,
Waktu berhasil membunuhku

"Sang pembunuh itu biasanya senantiasa di sampingku. Membunuh semua egoku untuk berhenti sejenak di tengah jalan hidupku. Kali ini pembunuh itu benar-benar membunuhku"

05/07/11



Keterikatan hati ini berawal dari kesalahanku
Aku lahir di tengah riaknya arus kecemburuan
Aku sempat berfikir dan berdo'a
Haruskah aku jatuh bersama tangis kekecewaan?
Ya Allah,
Aku ingin merasakan makna keadilan dalam cinta

Lihatlah seseorang di sebelahku ini
Hatinya rapuh ketika kau campakkan
Air matanya tak tertahan
Ketika bara api membakar relung hatinya
Karena siapa?
Karena kau!

Tataplah seseorang di depanku itu
Terlalu munafik di katakan ia tak punya hati
Ia pernah merasakan sakit pada sudut hatinya
Tapi ia tetep mencintaimu
Tetap mencintai kau!

Lalu bagaimana denganku?

Ketika cinta terbang bersama sajadah kesucian
Aku bisa memahami apa arti sebuah keadilan

"Cinta butuh keadilan, Sayang"

24/06/11



Semuanya lenyap seketika
Tidak ada lingkaran proses
Tidak ada segitiga waktu

Dimana kalian?
Mengumpat di balik tangisan kami?
Menertawakan di balik kegelisahan kami?
Atau menangis juga bersama kami?

Kami yang tertatih membuat semuanya bangkit
Pertama kalinya menangisi sesuatu
Apa yang kalian tau tentang kami?
Hanya orang-orang yang sering mengecewakan

Muak
Letih
Kecewa
Sakit

Pemikiran labil yang sering di caci kalian
Cukup kami berdiri dengan kerapuhan sesaat
Kami mengerti artinya motivasi
Kami tak ada upaya karena hitam di atas putih
Kalian tau apa tentang kami?
Hanya orang-orang yang banyak meminta

Kami menunggu uluran tangan-tangan itu
Sekalipun tangan-tangan kalian
Kami tidak gila harga diri
Kami hanya gila persaudaraan

Ya sudah
Lihat episode selanjutnya
Bertahan hidup atau akan mati?

"Kerapuhan itu sudah tertolong karena kepergian kalian. Terimakasih"

Teman Lila